Bagaimana Hadis Dinilai

Hadis SahihHadis Daif

Hadis dinilai dengan melihat dua hal: rantai perawi dan matannya. Halaman ini menjelaskan derajat yang akan Anda lihat di pustaka.

Derajat utama

1 صحيحSahih Sahih (otentik). Sanadnya bersambung dari perawi ke perawi melalui orang-orang yang adil dan memiliki hafalan yang kuat, dan hadis itu tidak memiliki cacat tersembunyi serta tidak bertentangan dengan riwayat yang lebih kuat.
2 حسنHasan Baik. Memenuhi syarat-syarat sahih kecuali bahwa satu perawi atau lebih memiliki hafalan yang sedikit lebih ringan. Hadis hasan dapat dijadikan dalil.
3 ضعيفDaif Lemah. Tidak memenuhi salah satu syarat, misalnya terputusnya sanad, atau adanya perawi yang tidak dikenal atau dikritik. Hadis lemah sangat beragam: sebagian hanya sedikit lemah dan dapat dikuatkan oleh sanad lain, sebagian sangat lemah.
4 موضوعMawdu' Palsu. Riwayat yang dibuat-buat dan dinisbatkan kepada Nabi ﷺ. Ini bukan hadis, dan tidak boleh diriwayatkan sebagai hadis kecuali untuk memperingatkan terhadapnya.

Istilah yang akan Anda lihat dalam derajat hadis

Isnad (sanad) “Isnaduhu Sahih” atau “Daif al-Isnad” hanya menilai sanadnya. Teksnya mungkin memiliki dukungan lain.
Lighairihi “Sahih lighairihi” atau “Hasan lighairihi” berarti derajat itu diberikan karena ada sanad lain yang menguatkannya, bukan karena sanadnya sendiri.
Hasan Sahih Derajat yang digunakan at-Tirmidzi, yang berarti hadis itu memiliki dua sanad, satu hasan dan satu sahih, atau bahwa sang ulama ragu antara keduanya.
Mauquf dan Maqtu' Riwayat mauquf adalah ucapan atau perbuatan seorang Sahabat, dan riwayat maqtu' adalah milik seorang Tabiin. Keduanya bukan sabda Nabi ﷺ, meskipun sanadnya sahih.
Mursal Riwayat di mana seorang Tabiin mengutip Nabi ﷺ secara langsung, tanpa menyebut Sahabat.
Syadz dan Munkar Syadz adalah riwayat yang disampaikan oleh perawi yang dapat diterima tetapi bertentangan dengan perawi-perawi yang lebih terpercaya. Munkar adalah riwayat perawi yang lemah yang bertentangan dengan para perawi yang terpercaya. Keduanya merupakan tanda kelemahan.

Apa yang harus dilakukan terhadap hadis lemah

Para ulama memiliki pandangan yang berbeda. Sebagian mengatakan hadis lemah tidak boleh dipakai sama sekali. Yang lain, seperti banyak ulama terdahulu, membolehkan meriwayatkan hadis yang sedikit lemah untuk mendorong amal kebaikan, dengan syarat: hadis itu tidak sangat lemah, masuk dalam prinsip yang sudah terbukti, dan seseorang tidak meyakininya pasti berasal dari Nabi ﷺ.

Semua sepakat bahwa hadis palsu tidak boleh dinisbatkan kepada Nabi ﷺ, dan bahwa tidak ada hukum halal dan haram yang dibangun hanya di atas hadis lemah.

Ketika Anda menemukan hadis yang banyak beredar, periksalah derajatnya di sini dan dalam karya seorang ulama sebelum Anda menyebarkannya.

Bagaimana pustaka ini mengelompokkan hadis

1 Diterima oleh semua penilai setiap penilai memberikan derajat sahih atau hasan dalam bentuk tertentu.
2 Lemah menurut semua penilai setiap penilai memberikan derajat daif, munkar, syadz, atau mawdu'.
3 Penilai berbeda pendapat sekurang-kurangnya satu menerimanya dan sekurang-kurangnya satu melemahkannya. Ini yang paling memerlukan kehati-hatian, sehingga setiap derajat ditampilkan beserta nama ulamanya.
4 Tidak dinilai basis data tidak memiliki derajat, seperti pada kedua kitab Sahih dan dua kumpulan empat puluh hadis.

Para ulama dalam pustaka ini

Derajat yang ditampilkan berasal dari karya para ulama ini, sebagaimana tercatat dalam basis data terbuka. Angka-angkanya menunjukkan berapa banyak hadis yang dinilai masing-masing di pustaka ini.

Zubair Ali Zai19,033
Al-Albani18,925
Shuaib Al Arnaut6,409
Abu Ghuddah5,574
Muhammad Muhyi Al-Din Abdul Hamid5,169
Muhammad Fouad Abd al-Baqi4,309
Ahmad Muhammad Shakir3,667
Bashar Awad Maarouf2,384
Salim al-Hilali1,829

Pertanyaan tentang derajat hadis

Apakah “diterima oleh semua penilai” berarti hadis itu pasti sahih?

Artinya semua ulama dalam basis data ini menerimanya. Ini tanda yang kuat, tetapi derajat tetaplah penilaian para ulama, jadi untuk perkara yang penting bacalah pembahasan lengkapnya dalam kitab-kitab ilmu hadis.

Siapa yang menentukan derajat?

Para ulama hadis meneliti para perawi dalam setiap sanad, keterpercayaan dan hafalan mereka, apakah sanadnya bersambung, dan apakah sanad lain menguatkan atau bertentangan dengannya.

Mengapa hadis dalam kitab Sunan ditandai lemah?

Para penulis kitab Sunan menghimpun hadis dengan tingkat kekuatan yang berbeda-beda dan sering kali menunjukkan sendiri kelemahannya. Para ulama berikutnya menilainya satu per satu.

This page is translated with machine assistance and may contain mistakes. The English and Arabic versions are our reference. About our sources